JAKARTA – Stabilitas sektor jasa keuangan di wilayah DKI Jakarta dan Banten tercatat tetap kuat hingga pertengahan 2025. Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi (Jabodebek) melaporkan ketahanan sektor perbankan, pasar modal, dan industri keuangan non-bank (IKNB) masih terjaga, didorong oleh peningkatan ekonomi daerah dan penguatan perlindungan konsumen.
Di DKI Jakarta, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp5.058,34 triliun, naik 12,34 persen (yoy). Penyaluran kredit juga tumbuh 9,75 persen menjadi Rp4.216,65 triliun, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) terjaga di 1,60 persen. Kredit terbesar mengalir ke sektor industri pengolahan (18,63 persen), rumah tangga (12,77 persen), dan aktivitas keuangan serta asuransi (11,92 persen).
Sementara di Banten, DPK tumbuh 4,89 persen menjadi Rp303,20 triliun, sedangkan kredit meningkat 3,55 persen menjadi Rp220,22 triliun dengan NPL 2,30 persen. Penyaluran kredit di provinsi ini didominasi sektor rumah tangga (50,59 persen) dan perdagangan (11,98 persen).
Pasar Modal Meningkat, Partisipasi Investor Meluas
Minat masyarakat terhadap pasar modal terus tumbuh. Per Agustus 2025, jumlah investor di DKI Jakarta mencapai 3,9 juta (naik 92,02 persen yoy), sedangkan di Banten mencapai 931,99 ribu (naik 19,01 persen). Nilai transaksi saham di Jakarta mencapai Rp179,99 triliun, sementara Banten justru tumbuh 13,59 persen menjadi Rp20,49 triliun, didominasi investor Kota Tangerang.
IKNB Terjaga Stabil
Sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) juga mencatat kinerja positif. Di Jakarta, piutang pembiayaan mencapai Rp92,65 triliun dengan rasio NPF 2,07 persen, sementara di Banten naik 5,58 persen menjadi Rp35,24 triliun dengan NPF 3,24 persen.
Aktivitas pinjaman daring (P2P lending) juga meningkat. DKI Jakarta mencatat 2,65 juta rekening pinjaman aktif dengan outstanding Rp12,62 triliun, sedangkan di Banten terdapat 1,68 juta rekening dengan outstanding Rp5,98 triliun.
Meski premi asuransi di Banten mengalami kontraksi, sektor penjaminan tumbuh signifikan — naik 153,59 persen (yoy) menjadi Rp7,82 triliun.
Perlindungan Konsumen dan Edukasi Keuangan
Hingga 30 September 2025, OJK Jabodebek telah memfasilitasi 7.225 pengaduan di DKI Jakarta dan Banten dengan tingkat penyelesaian 87,65 persen. Sebagian besar keluhan berasal dari sektor P2P lending (33–35 persen) dan perbankan. Isu terbanyak mencakup perilaku penagihan, restrukturisasi kredit, serta penipuan rekening.
Sepanjang Januari–September 2025, OJK menyelenggarakan 4.290 kegiatan edukasi keuangan bagi lebih dari 13 juta peserta, termasuk program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) dan Ekosistem Pusat Inklusi Keuangan Syariah (EPIKS).
OJK mengingatkan masyarakat untuk selalu memeriksa legalitas entitas keuangan sebelum menerima tawaran pinjaman atau investasi melalui situs dan kanal resmi seperti APPK, telepon 157, atau akun resmi @ojkindonesia dan @ojk_banten.


